Selasa, 24 Juli 2018

Kenaikan NJOP Jakarta Bakal Pengaruhi Daya Tarik Properti

Filled under:

Kenaikan NJOP Jakarta Bakal Pengaruhi Daya Tarik Properti


Digital Property – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) untuk wilayah DKI Jakarta.




Peraturan mengenai kenaikan NJOP ini tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 24/2018, yang diteken Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, pada 29 Maret 2018 lalu.

Kenaikan berlaku secara proporsional. Rata-rata kenaikan NJOP ini mencapai 19,54% dari nilai NJOP terakhir. Secara langsung, kebijakan baru ini berimbas pada kenaikan nilai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang harus dibayar warga DKI Jakarta paling lambat setiap 31 Agustus.

Data Index Digital Property menunjukkan bahwa harga properti di DKI Jakarta pada kuartal II (Q2) 2018 cenderung stabil dengan kenaikan sebesar 2,24 persen secara kuartalan (q-o-q).

Kenaikan ini mengoreksi penurunan yang terjadi pada kuartal sebelumnya sebesar 0,39% (q-o-q). Sementara itu, secara tahunan, kenaikan harga properti di Jakarta pada Q2 2018 mencapai 6,22%.

Data Index Digital Property ini memiliki akurasi data yang cukup tinggi untuk mengetahui dinamika yang terjadi di pasar properti di Indonesia, karena merupakan hasil analisis dari 400.000 listing properti dijual dan disewa dari seluruh Indonesia, dengan lebih dari 17 juta halaman yang dikunjungi setiap bulan dan diakses oleh lebih dari 5,5 juta pencari properti setiap bulannya.

“Sebagai pusat bisnis nasional, Jakarta, tentu saja, merupakan kawasan dengan tren harga properti yang terus meningkat, meski saat ini cenderung tipis. Penyesuaian NJOP ini dikhawatirkan dapat menurunkan daya tarik properti, khususnya hunian.

Pencari properti akan makin bergeser ke Bodetabek, apalagi dengan pembangunan infrastruktur penghubung yang masif saat ini,” ujar Marine Novita.

Setiap orang atau badan yang akan mendirikan bangunan wajib memiliki Izin Mendirikan Bangunan. Begini cara mengurusnya!

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Nilai NJOP di Ibu Kota saat ini berkisar pada Rp4,7juta hingga Rp48 juta per meter persegi. Umumnya, rata-rata pemilik lahan mematok harga lebih tinggi sekitar 30% dari NJOP.

Kawasan Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat adalah kawasan dengan peningkatan tertinggi. Berdasarkan Index Digital Property, Jakarta Selatan mencatatkan peningkatan sebesar 2,3% pada Q2 2018 (q-o-q).

Pada Q1, kawasan ini mengalami penurunan sebesar 0,04%. Sementara itu, Jakarta Timur mengalami penurunan sebesar 2,1% pada Q2 2018 (q-o-q), setelah pada kuartal sebelumnya naik tipis 0,4% (q-o-q).

Marine mengungkapkan, “Kebanyakan pencari hunian tampaknya sudah menyerah mencari properti di Jakarta Selatan dan Pusat, karena harga yang sudah sangat tinggi. Harapan lebih besar terdapat di Jakarta Timur, di sekitar Cibubur, Cipayung, Ciracas, dan sekitarnya.”

“Khusus Jakarta Timur, kawasan ini bakal semakin diminati karena harganya masih lebih terjangkau. Minat konsumen juga akan didorong oleh pembangunan jalan tol dan Light Rail Transit (LRT), yang aka membuat warga di sana lebih mudah menjangkau pusat Ibu Kota,” ia menambahkan.

“Jika melihat fitur Project Review Rumah.com, masih ada hunian jenis rumah dengan harga Rp500 jutaan dan apartemen dengan harga Rp250 jutaan di Jakarta Timur.

Di dalam Project Review, Anda juga bisa mendapatkan informasi jarak antara properti tersebut dengan akses tol, fasilitas umum, dan lain-lain secara detail,” tukas Marine.

Berdasarkan hasil survei Property Affordability Sentiment Index Semester II 2018 yang dilakukan Digital Property terhadap 1.000 responden dari seluruh Indonesia, sebanyak 51% responden meyakini bahwa kenaikan NJOP ini akan berpengaruh terhadap harga properti di DKI Jakarta. Sementara itu, 18% meyakini kenaikan NJOP tidak akan berpengaruh terhadap harga properti.

0 komentar:

Posting Komentar